Minggu, 06 Januari 2013

Retakan Kalbu


Dear Gelas Kaca. (Tak perlu malu menjadi pemimpi)

Bulirmu mengawang pada gumpalan riak-riak zaman
Dari sini aku mudah memandangnya dengan teropong bintang
Kau menari menjejakkan genangan musi
Menciptakan debur semu, sunyi, dan sepi

Wahai gelas kaca
Aku bercermin pada kilaumu
Memandang rintih wajahmu
Terpaku pada waktu yang berlalu
Diacuhkan layaknya batu

Aku menyesal
Memandang Kristal yang terkulai gravitasi
Cucuran yg terpantul sinar matahari

Hai gelas kaca
Aku memandangmu
Bagaikan memandang diriku yang membeku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar