Kaulah jantung yang berdegup. Tegar dan tak gugup
Kaulah sepucuk mawar yang tak takut mekar walau diusik tangan-tangan barbar
Kau tak sungkan berbicara lucu dihadapan tetamu yang bersandar pada norma ambigu.
Kala kabut dipelipis bumi berdesis
Menyekat panorama dunia dengan gelombang metafisis
Namun, kau tetap berdiri dimuka pintu. Menungguku untuk memberi restu
PULANG.
Kau pun melenggangkan telapak kaki menuju gerbang beribu mimpi.
Lantas, kau pun berjanji akan mengingatku dengan membangun memorial beku
Aku pun tertatih bertahun menanti didekat jendela.
Diwajah dunia yang beroperasi plastik setiap masa
Aku masih menantimu, seiring malam-malam kelabu menghujam kalbu.
Sabtu, 20 April 2013
Rabu, 06 Februari 2013
Tentang Perpisahan
Perpisahan adalah jalan untuk merindukan, pertemuan, dan kebahagiaan yang awet nantinya.
Perpisahan adalah manifestasi dari Unsur Pergi dan Hilang. Kemudian membentuk Senyawa Kesepian
Perpisahan seperti kanker yang menggerogoti sukma. Semakin lama waktu pandeminya. Semakin parah rasa sakitnya.
Perpisahan itu layaknya merelakan sumsum tulang belakang kita diangkat. Tanpa refleks, rasa, lalu lumpuh total. Pun menyisakan keheningan yang bertengger pada bilik-bilik sanubari.
Tak ada kerinduan yang lebih menohok kalbu dari rindu akan perpisahan yang haus akan pertemuan
Perpisahan adalah manifestasi dari Unsur Pergi dan Hilang. Kemudian membentuk Senyawa Kesepian
Perpisahan seperti kanker yang menggerogoti sukma. Semakin lama waktu pandeminya. Semakin parah rasa sakitnya.
Perpisahan itu layaknya merelakan sumsum tulang belakang kita diangkat. Tanpa refleks, rasa, lalu lumpuh total. Pun menyisakan keheningan yang bertengger pada bilik-bilik sanubari.
Tak ada kerinduan yang lebih menohok kalbu dari rindu akan perpisahan yang haus akan pertemuan
Kamis, 31 Januari 2013
Renungan Insan (Kecamuk Jiwa akan Akhirat)
Disini diperbatasan titian nirwana.
Manusia melegitimasi keberadaannya.
Millenium rentang waktu yg berlalu.
Seakan tlah menjadi ketentuan baku.
Pecahan usia melaju secara beruntut.
Menuntut ganjaran perbuatan insan yang patut.
Menuntun menggapai kesenduan layaknya hujan.
Menggapai kemenangan, cita, angan, dan kenangan.
Ketika manusia hendak mendarat diakhir samsara.
Jiwa-jiwa mulai melesat menuju matra baka.
Menghempaskan kereta siksa alam dunia.
Dengan ekspektasi luar biasa akhirat rana.
Namun bukan tentang itu yang membuatku percaya.
Tuhan bersemai di belahan dimensi sana.
Namun ganjaran yang dijanjikan-Nya.
Tentang surga dan neraka.
Tentang pahala dan dosa.
Tentang Malaikat, Iblis, dan Manusia.
Mengais segala amal untuk merengkuh sepenuh rahmat-Nya.
Maksud batin bukan tuk mendeklarasikan SARA.
Sekedar meyakinkan kepercayaanku sahaja.
Meyakinkan bahwa kami tidak percuma mengangkangi alam dunia.
Meyakinkan bahwa kelak nanti apa yang terjadi.
Tragedi, Ironi, Mimpi, Emosi, Bahkan Mati.
Itu semua terjadi padaku dan orang terdekatku.
Mungkinkah kami bertemu dalam suratan kuasa-Nya nan syahdu.
Atau terpisah antara dimensi dan waktu.
Aku malu menjadi manusia yang belum mengenal sebaik-baiknya Tuhan.
Ya Rabb ampunilah hamba dan orang terdekat hamba.
Jadikanlah kami insan yang berguna bagi bangsa dan agama. Aamin. :)
Senin, 21 Januari 2013
Flash fiction pertama. (Nyoba2)
15 tahun Fajar Menggema
Disini aku merengut. Menanti jiwa-jiwa yang tersenyum lalu menghampiriku sambil berkata. 15 tahun adalah pencapaian yang luar biasa. Yah hanya itu.
Fajar masih melenguh. Bumi masih basah oleh jutaan kristal yang mengelap cakrawala. Aku tlah bersliweran entah kemana. Menendang kerikil, Menjentikkan jari, Melakukan segala perbuatan iseng selama kaki melesat menghina tanah. Tak terasa aku tlah merengkuh tahun ke 15. Walau belum cukup untuk dibilang dewasa dan mendapat KTP sebagai identitas sejati.
Ketika mataku tengah mengelitiki keadaan, kulihat siluet manusia yang ku kenal. Sahabatku Robby. Kebetulan berpapasan dengannya sepagi ini. Kebetulan pula ia mau lebih dulu membuka percakapan.
"Bro, Tumben pagi buta keluyuran? Kena mimpi basah ya tadi malem. XD" seperti biasa dengan mulutnya yg ceplas ceplos.
"Masalah? Eh lu kelupaan sesuatu gak? Something special gitu" Aku mengingatkan
"Apaan sih. Sok inggris2an lu. Spesial apaan? Martabak?" timpalnya
Tiba-tiba tak ada angin tak ada geluduk, guntur, petir, halilintar, gemuruh, badai, dkk menari2 diatas awan, lalu menciptakan fenomena kosmos. *sok puitis bgt*
Tangan kurus kapalan milik Robby sudah mendarat di pipi kiriku. Nyeri bercampur panas berjangkit dipipi. Tak sabar hati ingin membalas. Namun, Robby sudah melesat menjauhiku. Dari kejauhan sana. Ia memicingkan mata sambil berkata "Indahnya 15 tahun fajar"
"Sial. Awas lu yaa, n BTW thanks yaa" timpalku dari sini. :D
Selamat Pagi Fajar pertama tahun ke 15. Semoga menjadi pembuka yang khidmat.
Minggu, 06 Januari 2013
Retakan Kalbu
Dear Gelas Kaca.
(Tak perlu malu menjadi pemimpi)
Bulirmu mengawang pada gumpalan
riak-riak zaman
Dari sini aku mudah memandangnya
dengan teropong bintang
Kau menari menjejakkan genangan
musi
Menciptakan debur semu, sunyi, dan
sepi
Wahai gelas kaca
Aku bercermin pada kilaumu
Memandang rintih wajahmu
Terpaku pada waktu yang berlalu
Diacuhkan layaknya batu
Aku menyesal
Memandang Kristal yang terkulai gravitasi
Cucuran yg terpantul sinar matahari
Hai gelas kaca
Aku memandangmu
Bagaikan memandang diriku yang
membeku.
Selasa, 01 Januari 2013
Puisi pembuka tahun 2013
Mungkin Hujan
Dengarkan lantunan gemericik
Meracik tetesan purba menjadi mahakarya
Riak-riak nan elok jelita
Konfigurasi melodi dan drama
Dan hujan menepis angin
Selimut bagi beringin
Ranah yg tandus nan gersang
Bertransformasi bak lautan pasang
Ya Tuhan jadikan lukisan alam
Sebagai pengikis kelam
Tanpa darah tanpa musibah
Semoga berakhir dengan indah
Langganan:
Komentar (Atom)