Rabu, 12 Desember 2012

Dekap Rinai Hujan (Sebab ia menangis?)

Sayap kupu-kupu merentang, membangkang
langit kelam menyulam
rintik-rintik mengucap salam

Tak payah menjadi bara
karena percuma bila padam
cobalah menjadi payung
payung yg sigap menentang lembayung

atau kubah
sebuah kubah merekah melindungi organisme dibawahnya.

Jangan salahkan sungai yang meluap
sesungguh ia yang merugi
menenggak begitu banyak cucuran langit
Jangan salahkan langit kawan
ia hanya bermuram durja
dipikul nelangsa tak bertepi
dan tangisnya mengucur sendiri
sepi, sepi, sedih
Meratapi kesunyian karena kawan tlah pergi.

Rabu, 03 Oktober 2012

Suara Alam


Dibenak Pepohonan

Kalimat surga biaskan mimpi
Mengundang hasrat untuk menepi
basis-basis merentang elok
Janjikan damai tuk hari esok

kami ada dimasa ini
meretih akibat kegundahan
sebab kami tak dapat berlari
apalagi untuk melawan

Coba kenali ribuan Ranting
Batang yang kukuh berdiri
Serta jutaan helai dedaunan

Bukan kami..
Tak sekalipun hendak layaknya kerikil
Terhempas, Terabai, dan Tertinggalkan

Hingga akhir menutup lembar imaji
Bukan kami tak dapat bertahan
Melainkan..
 Salah urban yang tak pernah peduli
bahwa kami bahagian kehidupan.

Sabtu, 29 September 2012

My first post


Desimal

Asa daku tak melaju,
terhempas kecaman kalbu
dibalik kisah kasih malam
ada lukisan kelam.

Tersirat dalam diam
terkungkung sepi muram
Tenggelam..
Di kegelapan delusi
antara mimpi di dalam mimpi
Ku Bertanya
Apa sukma ini tlah Mati?

Milyaran imaji membumbung tinggi
 Menggulung layaknya gelombang tsunami.

Setelah Kau, dan semua
Hadir bagai pelita
Gelap bagai fatamorgana
Berubah sepiru angkasa

Aku bahkan tak menyangka
Bahwa selama ini
Kalian merasuk dalam cinta.

Hadir di balik bayang semu
walau tak dikenal
Kalian...
Layaknya angka terakhir desimal.