Kaulah jantung yang berdegup. Tegar dan tak gugup
Kaulah sepucuk mawar yang tak takut mekar walau diusik tangan-tangan barbar
Kau tak sungkan berbicara lucu dihadapan tetamu yang bersandar pada norma ambigu.
Kala kabut dipelipis bumi berdesis
Menyekat panorama dunia dengan gelombang metafisis
Namun, kau tetap berdiri dimuka pintu. Menungguku untuk memberi restu
PULANG.
Kau pun melenggangkan telapak kaki menuju gerbang beribu mimpi.
Lantas, kau pun berjanji akan mengingatku dengan membangun memorial beku
Aku pun tertatih bertahun menanti didekat jendela.
Diwajah dunia yang beroperasi plastik setiap masa
Aku masih menantimu, seiring malam-malam kelabu menghujam kalbu.